Rabu, 04 Juli 2018
Senin, 02 Juli 2018
Mesin Bubut
MESIN BUBUT
Proses bubut (turning) adalah proses untuk membentuk benda kerja dengan cara membuang sebagian
material kerja sampai mencapai ukuran yang diinginkan. Prinsip kerja mesin bubut pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai
proses pemesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata:
a. Benda kerja yang berputar pada chuck.
b. Satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool).
c. Dengan gerakan pahat sejajar, melintang maupun menyudut terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan memotong permukaan luar benda.
(a) (b) (c)
a. Benda kerja yang berputar pada chuck.
b. Satu pahat bermata potong tunggal (with a single-point cutting tool).
c. Dengan gerakan pahat sejajar, melintang maupun menyudut terhadap sumbu benda kerja pada jarak tertentu sehingga akan memotong permukaan luar benda.
(a) (b) (c)
Gambar Proses bubut rata (a), bubut
permukaan (b) dan bubut tirus (c).
Parameter Proses Bubut
Tiga parameter
utama pada setiap proses bubut adalah kecepatan putar spindel (speed),
gerak makan (feed rate) dan kedalaman potong (depth of cut).
Faktor lain seperti bahan benda kerja dan jenis pahat sebenarnya juga
memiliki pengaruh yang cukup besar, tetapi tiga parameter di atas adalah bagian
yang bisa diatur oleh operator langsung pada mesin bubut.
a. Kecepatan putar
n (speed) selalu dihubungkan dengan
spindel (sumbu utama) dan benda kerja. Karena kecepatan putar diekspresikan
sebagai putaran per menit (revolutions
per minute, rpm), hal ini menggambarkan kecepatan putarannya. Akan tetapi
yang diutamakan dalam proses bubut
adalah kecepatan potong (cutting speed
atau V) atau kecepatan benda
kerja dilalui oleh pahat/keliling benda kerja lihat Gambar dibawah. Secara
sederhana kecepatan potong dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja
dikalikan dengan kecepatan putar.
Gambar. Panjang permukaan benda kerja yang dilalui pahat setiap putaran
Dengan demikian kecepatan potong ditentukan oleh
diamater benda kerja. Selain kecepatan potong ditentukan oleh diameter benda kerja faktor bahan benda kerja
dan bahan pahat sangat menentukan harga kecepatan potong.
Minggu, 01 Juli 2018
Material Teknik 1
Baja
Baja adalah paduan besi-karbon yang mengandung
konsentrasi lain yang cukup
sebagai paduannya. Ada ribuan paduan yang memiliki komposisi berbeda. Sifat mekanik
sensitif terhadap kandungan karbon, yang biasanya kurang dari 1,0%. Baja yang lebih umum dapat diklasifikasikan
menurut konsentrasi karbonnya yaitu ke dalam karbon rendah, menengah, dan
tinggi. Baja karbon (plain carbon steel) hanya mengandung
konsentrasi karbon dan sedikit mangan. Untuk baja paduan (alloy steel), lebih banyak unsur-unsur paduan yang sengaja
ditambahkan dalam konsentrasi tertentu untuk
mendapatkan sifat baja yang diinginkan. Baja dapat
diklasifikasikan seperti gambar dibawah ini.
Klasifikasi Baja Karbon
Menurut kadar karbon, secara umum baja dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel)
Pada umumnya mengandung kandungan karbon (C) kurang dari 0,25% dan tidak responsif terhadap perlakuan panas untuk membentuk martensit, Penguatan dicapai dengan pengerjaan dingin (cold work). Mikrostruktur terdiri dari unsur ferit dan senyawa perlit. Sebagai konsekuensinya, paduan ini relatif lembut dan lemah namun memiliki kemampuan yang luar biasa daktilitas dan ketangguhan, Selain itu, mampu mesin, mampu las dan dari semua baja, adalah yang paling murah untuk diproduksi. Aplikasi yang umum termasuk digunakan pada bodi mobil, bentuk balok struktural (balok I, dan besi sudut), dan lembaran yang digunakan pada jaringan pipa, bangunan, jembatan, dan kaleng timah.
Baja karbon rendah biasanya memiliki kekuatan luluh 275 MPa (40.000 psi), kekuatan tarik antara 415 dan 450 MPa (60.000 dan 80.000 psi), dan keuletan 25% dari elongasi.
2. Baja Karbon Sedang (Medium Carbon Steel)
Menurut kadar karbon, secara umum baja dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Baja Karbon Rendah (Low Carbon Steel)
Pada umumnya mengandung kandungan karbon (C) kurang dari 0,25% dan tidak responsif terhadap perlakuan panas untuk membentuk martensit, Penguatan dicapai dengan pengerjaan dingin (cold work). Mikrostruktur terdiri dari unsur ferit dan senyawa perlit. Sebagai konsekuensinya, paduan ini relatif lembut dan lemah namun memiliki kemampuan yang luar biasa daktilitas dan ketangguhan, Selain itu, mampu mesin, mampu las dan dari semua baja, adalah yang paling murah untuk diproduksi. Aplikasi yang umum termasuk digunakan pada bodi mobil, bentuk balok struktural (balok I, dan besi sudut), dan lembaran yang digunakan pada jaringan pipa, bangunan, jembatan, dan kaleng timah.
Baja karbon rendah biasanya memiliki kekuatan luluh 275 MPa (40.000 psi), kekuatan tarik antara 415 dan 450 MPa (60.000 dan 80.000 psi), dan keuletan 25% dari elongasi.
2. Baja Karbon Sedang (Medium Carbon Steel)
Pada dasarnya
sama dengan baja karbon rendah, hanya saja kandungan karbonnya antara 0,30 –
0,60% dan kandungan mangan 0,60 – 1,65%. Paduan ini bisa dilakukan perlakuan
panas seperti austenitizing, quenching, dan tempering untuk memperbaiki sifat
mekaniknya. Biasanya baja ini digunakan untuk bagian mesin seperti shaft,
axle, roda gigi, crackshaft, kopling dan sebagainnya. Baja karbon
sedang dengan kandungan karbon 0,4 - 0,60% juga sering digunakan untuk rel
kereta api, roda kereta api dan poros rel kereta.
3. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel)
Baja karbon tinggi, yang biasanya memiliki kandungan karbon antara 0,60 dan 1,4 %, adalah baja karbon paling keras, paling kuat, dan getas. Baja karbon tinggi digunakan dalam kondisi keras dan tempering, tahan aus karena itu sangat sering dipakai pada alat potong. Biasanya mengandung kromium, vanadium, tungsten, dan molybdenum. Unsur-unsur paduan ini di gabungkan dengan karbon untuk membentuk kekerasan dan tahan aus senyawa karbida (misalnya Cr23C6, V4C3, dan WC). Baja ini digunakan sebagai alat pemotong seperti pada pisau, pisau cukur, gergaji besi, pegas, dan kawat dengan kekuatan tinggi.
3. Baja Karbon Tinggi (High Carbon Steel)
Baja karbon tinggi, yang biasanya memiliki kandungan karbon antara 0,60 dan 1,4 %, adalah baja karbon paling keras, paling kuat, dan getas. Baja karbon tinggi digunakan dalam kondisi keras dan tempering, tahan aus karena itu sangat sering dipakai pada alat potong. Biasanya mengandung kromium, vanadium, tungsten, dan molybdenum. Unsur-unsur paduan ini di gabungkan dengan karbon untuk membentuk kekerasan dan tahan aus senyawa karbida (misalnya Cr23C6, V4C3, dan WC). Baja ini digunakan sebagai alat pemotong seperti pada pisau, pisau cukur, gergaji besi, pegas, dan kawat dengan kekuatan tinggi.
Baja Paduan (alloy steel)
Baja paduan merupakan suatu baja karbon yang telah ditambahkan satu
atau lebih unsur-unsur tambahan ke dalamnya untuk menghasilkan sifat-sifat yang
dikehendaki, yang tidak dimiliki oleh baja karbon.
Baja paduan dibagi menjadi dua yaitu baja paduan rendah
(low alloy steel) yang memiliki
kandungan paduan kurang dari 8% dan baja paduan tinggi (high alloy steel) yang memiliki kandungan paduan lebih dari 8%.
Untuk baja paduan rendah, dibagi menjadi low
carbon alloy (HSLA), medium carbon
alloy (heat treatable) dan high carbon alloy (tool steel). Sedangkan baja paduan tinggi dibagi menjadi tool steel
dan stainless steel. (Callister and
Rethwisch, 2009).
Baja HSLA (High Strength Low Alloy)
Baja HSLA
adalah baja yang didesain untuk dapat memberikan sifat mekanik dan ketahanan
korosi yang lebih baik dibandingkan dengan baja karbon biasa. Komposisi kimia
dapat bervariasi tergantung dari sifat yang ingin dicapai, baja ini biasanya
memiliki kadar karbon rendah berkisar antara 0,05-0,25% C. Unsur tembaga,
vanadium, nikel, molibdenum juga biasa ditambahkan ke dalam baja jenis ini.
Baja HSLA memiliki tingkat kekuatan yang lebih baik dari pada baja karbon
rendah biasa, juga memiliki sifat ulet dan mampu mesin (machineability) yang baik. Sehingga sering digunakan untuk
konstruksi bangunan dan jembatan. (Callister dan Rethwisch, 2009).
Baja Perkakas (Tool
Steel)
Baja perkakas
(tool steel) adalah baja karbon, paduan, atau baja kualitas tinggi
yang dapat dikeraskan. Baja tersebut biasanya dilebur dalam tungku elektrik dan
diproduksi berdasarkan spesifikasi khusus. Baja ini banyak digunakan untuk
material hand tool, seperti cutting, shaping, forming, dan blanking. Aplikasi
baja perkakas sangat luas karena memiliki sifat tahan aus, kekuatan, dan
ketangguhan yang baik. Performa baja perkakas bergantung pada kadar karbon,
unsur paduan, dan proses perlakuan panas (Roberts dkk, 1998).
Klasifikasi baja perkakas telah dikembangkan oleh American Iron and Steel Institute (AISI). Sistem klasifikasi AISI
untuk baja perkakas berdasarkan beberapa karakteristik, seperti: paduan (tungsten
dan molibdenum), aplikasi pengerjaan dingin dan panas, atau perlakuan panas
(pendinginan air dan minyak). Tabel dibawah menunjukkan tujuh kelompok utama baja perkakas
yang diidentifikasi dengan simbol alfabet.
Tabel Klasifikasi baja perkakas (Avner, 1974)
Tabel Klasifikasi baja perkakas (Avner, 1974)
No
|
Kelompok
|
Simbol
|
Tipe
|
1
|
Water hardening
|
W
|
|
2
|
Shock resisting
|
S
|
|
3
|
Cold work
|
O
|
Oil hardening
|
A
|
Medium alloy air hardening
|
||
D
|
High carbon high carbon chromium
|
||
4
| Hot work |
H1-H19
|
Chromium base
|
H20-H39
|
Tungsten base
|
||
H40-H59
|
Molybdenum base
|
||
5
|
High speed
|
T
|
Tungsten base
|
M
|
Molybdenum base
|
||
6
| Mold |
P1-P19
|
Low carbon
|
P20-P39
|
Other type
|
||
7
|
Special purpose
|
L
|
Low carbon
|
F
|
Carbon tungsten
|
Penomoran Baja
American Iron and Steel Institute (AISI) dan Society of Automotive Engineers (SAE) mengklasifikasikan baja berdasarkan struktur utama, paduan dan kadar karbonya. Sistem penomoran baja terdapat dalam tabel dibawah ini.
Tabel Penomoran standar AISI-SAE baja karbon dan paduan (Oberg, 2009)
AISI-SAE
|
Type of steel and Nominal Alloy Content (%)
| |
10XX
11XX
12XX
15XX
23XX
25XX
31XX
32XX
33XX
34XX
40XX
44XX
41XX
43XX
43BVXX
47XX
81XX
86XX
87XX
88XX
93XX
94XX
97XX
98XX
46XX
48XX
50XX
51XX
50XXX
51XX
52XXX
61XX
72XX
92XX
9XX
XXBXX
XXlXX
|
Carbon Steels
Plain Carbon (Mn 1.00% max.)
Resulfurized
Resulfurized and Rephosphorized
Plain Carbon (Max. Mn range 1,00 to 1,65%)
Manganese Steels
Mn 1,75
Nickel Steels
Ni 3,50
Ni 5,00
Nickel–Chromium Steels
Ni 1,25; Cr 0,65 and 0,80
Ni 1,75; Cr 1,07
Ni 3,50; Cr 1,50 and 1,57
Ni 3,00; Cr 0,77
Molybdenum Steels
Mo 0,20 and 0,25
Mo 0,40 and 0,52
Chromium–Molybdenum Steels
Cr 0,50; 0,80; and 0,95; Mo 0,12; 0,20; 0,25; and 0,30
Nickel–Chromium–Molybdenum Steels
Ni 1,82; Cr 0,50 and 0,80; Mo 0.25
Ni 1,82; Cr 0,50; Mo 0,12 and 0.35; V 0,03 min.
Ni 1,5; Cr 0,45; Mo 0,20 and 0.35
Ni 0,30; Cr 0,40; Mo 0,12
Ni 0,55; Cr 0,50; Mo 0,20
Ni 0,55; Cr 0,50; Mo 0,25
Ni 0,55; Cr 0,50; Mo 0,35
Ni 3,25; Cr 1,20; Mo 0,12
Ni 0,45; Cr 0,40; Mo 0,12
Ni 0,55; Cr 0,20; Mo 0,20
Ni 1,00; Cr 0,80; Mo 0,25
Nickel–Molybdenum Steels
Ni 0,85 and 1,82; Mo 0,20 and 0,25
Ni 3,50; Mo 0,25
Chromium Steels
Cr 0,27, 0.40, 0.50, and 0.65
Cr 0,80, 0.87, 0.92, 0.95, 1.00, and 1.05
Cr 0,50; C 1,00 min.
Cr 1,02; C 1,00 min.
Cr 1,45; C 1,00 min.
Chromium–Vanadium Steels
Cr 0,60; 0,80; and 0,95; V 0,10 and 0;15 min
Tungsten–Chromium Steels
W 1,75; Cr 0,75
Silicon–Manganese Steels
Si 1,40 and 2,00; Mn 0,65; 0,82; and 0,85; Cr 0,00 and 0,65
High–Strength Low–Alloy Steels
Various SAE grades
B denotes boron steels
L denotes leaded steels | |
| AISI | SAE | Stainlees Steel |
2XX
3XX
4XX
5XX |
302XX
303XX
514XX
515XX |
Chromium–Manganese–Nickel Steels
3XX 303XXChromium–Nickel Steels
4XX 514XX Chromium Steels
5XX 515XX Chromium Steels |
Jumat, 06 November 2015
Material Teknik 2
BAHAN BUKAN LOGAM
Bahan bukan logam ternyata selalu dibutuhkan, baik dalam teknik bangunan dan mesin, bangunan umum, teknik proses, maupun keperluan lainya. Bukan logam selain digunakan sebagai bahan pengganti logam untuk beberapa keperluan juga sangat dibutuhkan sebagai bahan utama sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan sifat-sifatnya yang khas untuk berbagai keperluan.
Bahan bukan logam ternyata selalu dibutuhkan, baik dalam teknik bangunan dan mesin, bangunan umum, teknik proses, maupun keperluan lainya. Bukan logam selain digunakan sebagai bahan pengganti logam untuk beberapa keperluan juga sangat dibutuhkan sebagai bahan utama sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan sifat-sifatnya yang khas untuk berbagai keperluan.
Bahan bukan logam yang penting untuk bahan teknik antara lain dapat digolongkan sebagai berikut.
(a). Bahan pelumas : minyak dan gemuk
(b). Bahan bakar : padat, cair, dan gas.
(c). Bahan isolasi : isolasi panas, isolasi listrik, dan isolasi getar
(d). Bahan paking : perapat cairan dan perapat gas.
(e). Bahan asah.
(f). Bahan las.
(g). Plastik
(h). Karet.
Bahan bukan logam digunakan dalam bidang teknik, karena memiliki
sifatsifat yang dibutuhkan dari suatu bagian konstruksi yang tidak
dimiliki oleh bahan lain. Selain itu bahan bukan logam digunakan
untuk menggantikan pemakaian logam pada beberapa alat dan bagian
konstruksi, karena bahan bukan logam memiliki sifat yang mirip dengan
logam.
Bahan sintetis banyak digunakan digunakan pada industri permesinan,
dari industri kecil sampai industri besar. Pengolahan bahan-bahan
sintetis lebih murah dibandingkan dengan bahan yang didapat dari
pertambangan. Sehingga kalau ditinjau dari segi ekonomi dan proses,
bahan sintetis lebih murah dan lebih cepat dari pada bahan tambang.
(1). Bahan Pelumas
Di dalam mesin terdapat bagian-bagian yang bergerak, seperti
poros engkol, torak, batang torak, katup, rantai dan sebagainya. Dengan adanya
pelumas hubungan dua bagian tidak bergesekan secara langsung karena terdapat lapisan
minyak tipis (oil film).Untuk mengurangi kenaikan suhu dan keausan pada
bagian-bagian yang bergesekan, menambah kerapatan antara torak dan silinder
mengeluarkan kotoran dan mencegah karat, dapat dipergunakan minyak pelumas.
1) Minyak Binatang
Diperoleh dengan mengolah
tulang-tulang sapi sehingga disebut minyak tulang.Minyak ini titik
didihnya 360°C dan tidak mudah kering. Dipergunakan untuk melumasi pada
titik – titik perputaran seperti magnet dan jam.
2) Minyak Tumbuhan
Diperoleh dari
tumbuh-tumbuhan, dapat melumasi dengan baik dan mempunyai daya lekat pada logam
tinggi, tetapi kental dan keruh dan dapat bersenyawa dengan asam. Dipergunakan
sebagai pelumas pada motor yang didinginkan oleh udara.
3) Minyak Mineral
Tabel Satuan Kekentalan
Minyak Pelumas
No
|
SAE
|
Tingkat Kekentalan
|
1
|
SAE 10
|
Sangat Encer
|
2
|
SAE 20
|
Encer
|
3
|
SAE 30-40-50
|
Setengah Kental
|
4
|
SAE 60-70
|
Kental
|
Minyak pelumas untuk mesin harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
(a) Derajat kekentalannya
harus sesuai dengan jenis operasi mesin.
(b) Mempunyai daya lekat
yang baik
(c) Tidak mudah bercampur
dengan kotoran
(d) Mempunyai titik
nyala(flash point) yang tinggi dan sukar menguap
(e) Mudah memindahkan panas dan titik bekunya rendah.
(e) Mudah memindahkan panas dan titik bekunya rendah.
(2). Bahan Isolasi
Bahan isolasi adalah bahan yang menyekat, artinya yang tidak menghantarkan. Bahan isolasi dibedakan atas bahan penyekat listrik, penyekat suara, penyekat getaran, penyekat panas, penyekat bangunan, dan bahan penyekat konstruksi bangunan mesin.
(a). Bahan penyekat listrik, bahan ini harus tahan terhadap tegangan, arus listrik dan tidak boleh menghantarkan listrik, walaupun lembabnya udara dan buruknya keadaan suhu. Bahan-bahan penyekat listrik yaitu sebagai berikut.
Produk alam yaitu mika (kolektor) dan asbes (oven listrik). Bahan keramik yaitu porselen dan steatif (isolator) dan kaca (lampu dan pipa). Zat cair yaitu minyak isolasi (transformator dan kabel) dan lak isolasi (kawat).
Lapisan tekstil dan kertas yang diintgrasikan yaitu prespan (isolasi alur), kertas isolasi (kondensator), dan tekstil isolasi (kumparan).Produk organik sintetis yaitu polieten, polivinil klorida, polisterin
dan karet (kawat dan kabel), dan formaldehid (bahan penghubung).
(b). Bahan penyekat suara, bahan ini harus sedikit mungkin dapat ditembus suara dan bahan ini sangat penting dalam konstruksi bangunan kapal. Zat penyekat suara yang paling baik ialah udara dinding. Sifat ini digunakan pada konstruksi dinding berganda yaitu terdiri dari dua dinding terpisah sama sekali. Bahan penyekat suara yang lain adalah pelat serat kayu, pelat kumparan lunak (soft brand plate), dan pelat jerami.
(c). Bahan penyekat getaran, bahan ini harus dapat meredam getaran dalam konstruksi bangunan-bangunan mesin dan kendaraan. Bahan penyekat getaran yang terpenting adalah kulit dan karet.
(d). Bahan penyekat panas, bahan ini tidak boleh menghantarkan panas dari konstruksi bangunan gedung dan konstruksi bangunan mesin. Bahan penyekat panas harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.
Koefisien panas harus rendah, Daya tahan lembab yang baik, Daya tahan suhu yang tinggi, Masa jenis yang rendah
(e). Bahan penyekat bangunan, yang baik adalah udara diam mempunyai koefisien daya hantar yang paling rendah yaitu 0,02 J/det 0Cm. Konstruksi dinding berlaois dimana udara diam terdapat suara yang baik, juga bekerja sebagai isolasi panas yang sempurna. Bahan penyekat panas yang lain ialah, kayu, pelat serat kayu, pelat gabus, pelat damar buatan, pelat beton batu apung, pelat semen asbes, dan kertas yang dipreparasikan.
(4). Plastik
(3). Bahan Paking
Bahan paking ialah bahan yang digunakan untuk perapat ruangan yang berisi zat cair atau gas. Sifat perapatannya dibedakan atas dua jenis yaitu;
(a). Perapat statis, adalah perapatan bagian yang tidak bergerak terhadap satu sama lain, seperti paking tutup silinder head, karter, dan lainlainnya.
(b). Perapat dinamis, adalah perapatan bagian-bagian yang bergerak terhadap satu sama lain. perapatan dinamis ini dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu perapatan bagian-bagian yang bergerak bolak-balik terhadap satu sama lain dan perapatan bagian-bagian yang berputar terhadap satu sama lain.
Bahan paking dibedakan dalam kelompok bukan metalik, setengah metalik dan metalik.
(a). Bahan paking bukan metalik.
- Alat perapat statis
- Kertas dan karton, bahan yang terbuat dari campuran serat yang ditambah dengan perekat dan bahan pengisi. Sebagai serat digunakan serat kayu, serat kain tua, serat jerami dan serat kertas tua.
- Fiber, bahan terdiri dari lapisan-lapisan kertas yang diimpregnasikan (dijenuhkan) dengan damar buatan, fiber ini biasanya digunakan sebagai paking pelat .
- Gabus, bahan ini berasal dari kulit pohon gabus. Gabus ini diikat berupa pelat dan digunakan sebagai paking pelat.
- Alat perapat statis dan dinamis
- Kulit, adalah bahan kulit binatang yang disamak dengan asam krom mineral dinamakan kulit krom. Kulit selain dipakai dalam bentuk gelang juga paking pelat-pelat, terutama digunakan dalam bentuk manset sebagai paking perapat untuk batang.
- Karet, bahan ini terbuat dari karet alam dan jenis karet sintetis karena kekenyalanya yang besar termasuk bahan paking yang terbaik. Akan tetapi bahan paking ini hanya sesuai untuk media tertentu yaitu pada suhu, tekanan, dan kecepatan yang tidak terlampau tinggi. Paking karet digunakan untuk perapat pipapipa air, dan lain-lain.
- Asbes, adalah silikat magnesium yang ditemukan di alam dalam bentuk serat. Dalam bentuk itu daya tahan suhunya kira-kira 500 0C, akan tetapi, asbes biasanya diberi campuran karet dan grafit. Asbes digunkan sebagai paking pelat dan paking sumbat tabung, paking ini dibuat dalam berbagai bentuk.
- Politetrafluoreten, ialah plastik termoplastis dalam keadaan murni daya tahan kimianya baik dan daya tahan suhunya kira-kira 260 0C akan tetapi, bahan ini sering juga ditambahkan kepada asbes sebagai bahan impegnasi. Politetrafluoereten digunakan sebagai paking pelat dan paking sumbat tabung dan terseia dalam berbagai macam bentuk.
(b). Bahan paking setengah metalik.
- Alat perapat statis Karet dengan kasa tembaga, tersedia dalam bentuk palet. Asbes dengan kasa tembaga, paking ini terdiri dari kain asbes yang ditenun dengan tembaga. Keseluruhannya diimpregnasikan dengan suatu massa tahan panas dan kemudian diberi grafit pada salah satu sisi atau kedua belah sisinya. Asbes dengan kasa baja, pada kedua belah sisi kasa baja yang ditenun rapat dan kuat ditempelkan dengan tekanan tinggi suatu lapisan tipis.
- Asbes dengan salut tembaga yang tipis, asbes diberi sati lapisan tipis salut tembaga dan dapat diperoleh sebagai barang jadi (gelang dan paking kepala).
(c). Bahan paking metalik
- Alat perapat statis, terbuat dari baja, tembaga, loyang, timbel, aluminium, dan nikel. Bahan ini digunakan dalam bentuk gelang persegi panjang, bulat, bulat telur, bentuk lensa, atau bentuk lain yang diinginkan.
- Alat perapat dinamis terbuat dari bahan logam putih yang digunakan sebagai paking sumbang tabung dalam berbagai bentuk.
Plastik merupakan bahan yang sangat penting dalam dunia permesinan
dan industri modern. Plastik adalah bahan sintetis berasal dari minyak
mineral, gas alam, atau dibuat dari bahan asal batu bara, batu kapur,
udara, air dan juga dari binatang dan tumbuh-tumbuhan. Pengolahannya
dapat dikerjakan pada proses panas dan tekanan.
Sifat-sifat plastik pada umumnya adalah sebagai berikut.
| a. | Tahan korosi oleh atmosfer ataupun oleh beberapa zat kimia. |
| b. | Berat jenisnya cukup rendah, sebagian dapat mengapung dalam air. |
| c. | Cukup ulet dan kuat, tetapi kekuatannya di bawah logam. |
| d | Bahan termoplastik mulai melunak pada suhu yang rendah, sedikit mempunyai wujud yang menarik dan dapat diberi warna, ada yang transparan |
Sifat mekanik dari plastik adalah tidak mudah pecah dan rapuh.
Beberapa bahan plastik koefisien geseknya sangat rendah sehingga sering
digunakan sebagai bantalan kering.
Keburukan-keburukan dari plastik adalah sebagai berikut.
a. Kecenderungan memuai yaitu menjadi lebih panjang dengan adanya beban.
b. Suhu diatas 2000 C sifatnya menjadi kurang baik.
c. Terjadi perubahan polimer selama pemakaian yang kemungkinan
sekali karena aksi dari sinar ultra violet.
Bahan plastik dibagi dalam dua golongan yaitu plastik termoseting dan thermoplastik.
Bahan plastik dibagi dalam dua golongan yaitu plastik termoseting dan thermoplastik.
(a). Termoseting
Bahan ini keras dan mempunyai daya tahan panas yang tinggi. Proses
pengerjaan plastik termoseting adalah sebagai berikut. Bahan baku
(resin) berbentuk biji-biji kering dan
bahan tambahan dimasukkan kedalam cetakan lalu dipanaskan hingga 1500 C, kemudian ditekan dengan gaya
kira-kira 150 atm. bAhan ini akan mencair dan memenuhi model.
Selanjutnya dipanasi lagi hingga bahan tersebut mengeras, lalu tutup
cetakan dibuka dan benda tersebut diangkat. Proses itu berlangsung pada
temperatur tinggi. Untuk mendapatkan permukaan benda yang halus cetakan
harus dipoles, terutama digunakan dalam pembuatan alat-alat listrik, tread bushing, dan bearing bushing.
(b). Termoplastik
Thermoplastik tersusun dari molekul-molekul panjang. Jikalau molekul
panjang itu diumpakan sebagai sebuah garis yang ditarik dan kita
letakkan dua buah molekul panjang berdampingan maka memperlihatkan suatu
gambaran dari suatu termoplas dalam keadaan padat.
Jika termolas dipanaskan untuk menjaga keseimbangan maka molekul
panjang akan bergerak lebih banyak. Suhu pemanasan yang menyebabkan
proses ini dinamakan suhu pelunak. Bila termoplastik dipanaskan lebih
lama, molekul panjang akan bergerak keluar dari keseimbangannya dan
berpindah tempat terhadap satu sama lain. suhu pada saat tersebut
dinamakan suhu lumer dan bahan menjadi cair.
Antara fasa padat dan cair terdapat fasa antara tambahan, saat itu
bahan berada dalam keadaan lunak. Dalam keadaan itu bahan dikatakan
plastik. Jadi termoplastik adalah bahan yang menjadi plastis karena
pemanasan dan bentuknya dapat diubah dalam keadaan plastis itu.
Bahan-bahan termoplastik adalah polietilen, polivinil khlorida,
polistiren, poliamide dan poliester.
Metode pembentukan termoplastik yaitu.
- Proses pembentukan vakum, pembentukan cara ini dilakukan untuk komponen yang relatif besar, dalam metode ini tidak dibutuhkan cetakan yang mahal ataupun mesin yang mahal.
- Pembentukan dengan injeksi, pembentukan injeksi khususnya dilakukan untuk polistiren, politilen, poliamide. Resin tersebut pertama-tama dipanaskan pada silinder pemanas kemudian ditekan melalui lubang laluan menuju ke cetakan yang mana dengan pendinginan akan menjadi cepat padat.
- Pembentukan dengan proses ekstrusi, mesin extruder dapat juga digunakan untuk pembentukan injeksi tetapi terutama untuk menghasilkan bahan-bahan yang panjang seperti lembaran plastik, pelapis kabel, pipa plastik, dan film. Ekstrusi adalah proses yang menggunakan panas dan tekanan untuk melelehkan polietilen dan polivinil klorida yang didorong melewati cetakan dengan ukuran yang sangat teliti pada produksi bersambung.
DAFTAR PUSTAKA
Adnyana, 1993. Metalurgi Las (Welding Metalurgy), Institut Sain dan Teknologi Nasianal, Jakarta.
Adnyana, 1993. Metalurgi Las (Welding Metalurgy), Institut Sain dan Teknologi Nasianal, Jakarta.
Bangyo Sucahyo, 1999. Ilmu Logam, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Surakarta.
Cubberly William H, 1983, Metals Handbook Ninth Edition Vol. 1
Properties and Selection Iron and Steels. American Society For Metals, New York.
Hari Amanto dan Daryanto, 1999, Ilmu Bahan, Bumi Aksara, Jakarta.
Yanmar Diesel. 1980. Buku Petunjuk Mesin Diesel Yanmar. PT. Yanmar Indonesia. Jakarta.
Suyanto, 2001. Bahan Bakar dan Minyak Lumas, Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta.
Tata Surdia dan Saito Shinroku, 1999, Pengetahuan Bahan Teknik, Pradnya Paramita, Jakarta.
Warsowiwoho dan Gandhi Harahap, 1984. Bahan Bakar, Pelumas, Pelumasan dan Servis, Pradnya Paramita, Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)